Malam Takbiran Tanpa Pasar Tumpah? Kurang Greget! H. Bacung: Ayo, Belanja Sambil Bernostalgia!
Tangerang – inovasiNews.com Malam takbiran selalu menghadirkan kehangatan tersendiri, terutama di Pasar Tumpah Balaraja. Lebih dari sekadar tempat berburu baju baru atau mencicipi jajanan khas Lebaran, pasar ini menyimpan kejutan manis pertemuan tak terduga yang menghidupkan kembali kenangan lama.
Deden, misalnya, datang dengan niat sederhana: mencari baju koko baru. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara lantang seorang pedagang.
"Ayo, ayo, koko murah! Dipakai kelihatan soleh, nggak dipakai tetap ganteng! Yang jomblo, pakai ini, insya Allah ada yang lirik!"
Deden menoleh dan langsung membelalak. "Hah?! Asep?!" serunya tak percaya.
Sang pedagang, yang tak lain adalah Asep sahabat lamanya di bangku sekolah terkejut bukan main. "Waduh, Deden?! Lama banget nggak ketemu! Gila, lo masih hidup?!" ujarnya sambil tertawa.
Tak butuh waktu lama, keduanya berpelukan penuh kehebohan di tengah hiruk-pikuk pasar.
"Dulu kita sering jajan cilok bareng, sekarang lo jualan baju?! Hebat, Sep!" ujar Deden dengan kagum.
"Namanya juga usaha, Den! Mau beli? Tenang, harga spesial buat lo, tetap untung buat gue!" balas Asep dengan gaya khasnya.
Momen-momen tak terduga seperti ini bukan hanya milik Deden dan Asep. Banyak pengunjung yang bertemu kembali dengan teman lama ada yang dulunya teman sekampung, mantan teman sekolah, hingga rival di lapangan bola yang kini berjumpa di tengah riuhnya perburuan diskon.
Di antara sorak-sorai para pedagang, terdengar promosi nyeleneh yang mengundang tawa:
- “Mukena ini buat yang solehah! Yang belum solehah, bisa jadi lebih solehah!”
- “Celana jeans! Ada buat yang langsing, ada juga buat yang perutnya bahagia!”
- “Baju anak-anak lucu-lucu! Satu buat anak sendiri, dua buat ponakan, tiga buat calon anak di masa depan!”
Banyak yang awalnya hanya ingin sekadar cuci mata, akhirnya tergoda membeli gara-gara celotehan pedagang yang menghibur.
Di sudut lain pasar, seorang ibu paruh baya juga mendapat kejutan. Seorang pria muda menyapanya dengan wajah sumringah.
"Bu! Masih ingat saya? Saya Aan, murid ibu waktu SD!"
Sang ibu sempat terdiam, lalu tersenyum haru. "Ya Allah, Aan! Udah gede sekarang! Ngapain di sini?"
"Saya jualan kue, Bu! Nih, cobain, gratis buat ibu!" ujar Aan, menyodorkan kue khas Lebaran buatannya.
Keseruan Pasar Tumpah tak luput dari perhatian tokoh kepemudaan Balaraja, H. Ucu Komarudin atau yang lebih dikenal sebagai H. Bacung. Ia mengajak warga untuk tidak melewatkan tradisi penuh makna ini.
"Wahai warga Balaraja dan sekitarnya, kalau malam takbiran kalian cuma duduk di rumah, berarti ada yang kurang! Pasar Tumpah bukan cuma soal belanja, tapi soal silaturahmi, nostalgia, dan ikut merasakan denyut ekonomi rakyat. Ini pestanya kita semua!" serunya penuh semangat.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Pasar Tumpah adalah ruang kebersamaan yang harus terus dijaga.
"Di sini, kita sering bertemu teman lama yang sudah bertahun-tahun nggak jumpa. Ada yang dulu teman main bola, sekarang sudah jadi pedagang sukses. Ada yang dulu sama-sama belajar ngaji, kini berjumpa di tengah hiruk-pikuk pasar. Momen-momen seperti ini yang membuat malam takbiran semakin berkesan."
Namun, H. Bacung juga mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban dan kebersihan.
"Silakan belanja, silakan tawar-menawar, tapi jangan buang sampah sembarangan. Jangan parkir seenaknya. Kita semua bertanggung jawab menjaga kenyamanan tradisi ini."
Terakhir, ia menutup ajakannya dengan kalimat yang membakar semangat warga.
"Kalau mau merasakan euforia malam takbiran yang sesungguhnya, jangan ke mana-mana! Pasar Tumpah Balaraja adalah tempatnya! Datang, belanja, ketemu teman lama, nikmati jajanan enak, dan rasakan atmosfer yang cuma ada setahun sekali. Ini tradisi kita, ini kebanggaan kita!"
Siap menikmati serunya Pasar Tumpah tahun ini? Jangan sampai ketinggalan! Malam takbiran tanpa Pasar Tumpah? Wah, nggak seru!
(Oim)