Headline
Kabar Daerah
Tangerang
0
Ramadhan Pergi, Tapi Pengabdian Tetap Bersemi
TANGERANG, InovasiNewos.Com - Ramadhan perlahan-lahan akan meninggalkan kita. Bulan yang penuh rahmat ini datang membawa cahaya, mengajarkan ketulusan, dan menaburkan kasih sayang di setiap hembusan nafas. Namun, seperti fajar yang berganti senja, kebersamaannya harus berakhir, menyisakan jejak keberkahan bagi mereka yang mengisinya dengan amal dan kepedulian.
Bagi jajaran anggota DPD YLPK PERARI Provinsi Banten, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah pribadi, tetapi juga momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada masyarakat. Dalam sunyi sahur dan syahdu waktu berbuka, mereka tetap bergerak mengawal hak-hak konsumen, memastikan mereka yang tengah berjuang mendapatkan keadilan. Di tengah keterbatasan fisik karena berpuasa, tugas mulia ini dijalankan dengan penuh ketulusan.
Tak sedikit permasalahan yang datang, dari persoalan transaksi yang merugikan, sengketa dengan lembaga keuangan, hingga kasus-kasus yang menguras energi dan kesabaran. Namun, semua dijalani sebagai bagian dari pengabdian. "Kami tak bisa memilih kapan permasalahan datang, tetapi kami bisa memilih untuk selalu hadir bagi masyarakat, kapan pun mereka membutuhkan," ujar Rizal, Ketua DPD YLPK PERARI Banten.
Ia menambahkan bahwa Ramadhan memberikan pelajaran tentang kesabaran dan keteguhan. "Dalam keadaan lapar dan haus, kami belajar untuk tetap profesional. Dalam menghadapi kasus yang rumit, kami belajar untuk tetap sabar. Ini bukan hanya soal kerja, tapi juga soal mendidik diri agar semakin dekat dengan Allah melalui pengabdian kepada sesama," ungkapnya.
Tak hanya berjuang dalam ranah advokasi, para anggota DPD YLPK PERARI Banten juga menjadikan bulan suci ini sebagai ajang muhasabah. Setiap malam, di sela tugas dan tanggung jawab, mereka meluangkan waktu untuk tafakur, bertanya pada diri sendiri: apakah perjuangan yang dilakukan sudah menjadi amal yang bernilai di sisi-Nya?
Ustadz Ahmad Rustam, seorang aktivis kerohanian sekaligus anggota DPD YLPK PERARI Banten, mengingatkan bahwa pengabdian kepada sesama adalah bagian dari ibadah yang tak boleh terhenti. "Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu menjadi penolong bagi mereka yang lemah. Ramadhan ini semoga menjadi saksi bahwa kita berjuang bukan sekadar mencari dunia, tetapi juga mencari ridha-Nya," katanya dengan suara penuh keteduhan.
Kesibukan mendampingi masyarakat tak membuat mereka lalai dalam ibadah. Justru di balik aktivitas itu, mereka menemukan makna spiritual yang lebih dalam. Setiap langkah advokasi yang dilakukan, setiap ketukan pintu keadilan yang mereka perjuangkan, terasa lebih ringan karena diyakini sebagai bagian dari amal yang tak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.
Kini, saat Ramadhan bersiap berpamitan, ada kesedihan yang menggelayut di hati. Namun, mereka sadar bahwa esensi Ramadhan tak boleh ikut pergi. Semangat berbagi, ketulusan dalam bekerja, dan kesabaran dalam menghadapi cobaan harus tetap menyala, bahkan setelah gema takbir berkumandang.
Ketika nanti hari kemenangan tiba, mereka tidak hanya merayakan dengan pakaian baru atau hidangan istimewa, tetapi juga dengan hati yang lapang dan jiwa yang semakin teguh dalam perjuangan. Bagi mereka, Idul Fitri bukan sekadar tentang kembali suci, tetapi juga tentang kembali berkomitmen untuk terus membela hak-hak masyarakat dengan lebih baik.
Ramadhan boleh berlalu, tapi cahaya yang dibawanya harus tetap berpendar. Seperti doa yang mereka lantunkan di keheningan malam, semoga setiap langkah perjuangan ini menjadi saksi kebaikan yang abadi, mengalir seperti sungai jernih yang tak pernah kering, membawa keberkahan hingga akhir hayat. (Oim)
Via
Headline