Gabeng: Mari Hidupkan Kembali Semangat Gotong Royong yang Terlupakan
Tangerang-inovasiNews.com Di tengah gemerlap teknologi yang terus berkembang, Balaraja, sebuah kecamatan yang kaya akan potensi, kini merasakan kehilangan sebuah nuansa yang pernah menjadi ciri khasnya. Dulu, setiap pertemuan, setiap acara, tak pernah sepi dari tawa, diskusi, dan berbagi cerita. Masyarakat berkumpul, tanpa gangguan layar gadget, untuk berbagi pengalaman dan merencanakan kegiatan yang mempererat ikatan persaudaraan.
Namun, kini kita sering menyaksikan momen kebersamaan yang tereduksi oleh kehadiran gadget. Saat berkumpul dengan teman atau keluarga, perhatian lebih banyak terfokus pada layar, bukan pada percakapan yang mengalir dengan hangat. Aminudin Al Ikhlasi, yang akrab disapa Gabeng, aktivis sosial dan lingkungan asli Balaraja, merasakan hal ini dengan sangat dalam.
“Saya sangat merindukan masa-masa itu, saat setiap orang, dari pengusaha hingga warga biasa, ikut terlibat dalam kebersamaan tanpa teralihkan oleh gadget,” ujarnya dengan penuh perasaan.
Gabeng mengingat bagaimana dulu Balaraja dipenuhi kegiatan yang membawa semua elemen masyarakat bersatu. Mulai dari lomba olahraga, festival musik, hingga kompetisi akademik antar sekolah yang tak hanya menyajikan hiburan, tapi juga mempererat tali silaturahmi.
“Momen-momen itu adalah kenangan yang tak terlupakan. Semua berkumpul dengan satu tujuan membangun kebersamaan yang kuat,” kenangnya.
Namun, saat ini, saat kita berkumpul, kebersamaan itu mulai memudar. Interaksi yang dulu penuh warna kini tergantikan oleh kesibukan individu, dengan gadget sebagai penghalang utama. Apa yang bisa kita lakukan untuk menghidupkan kembali kebersamaan itu? Apakah ada jalan untuk membawa Balaraja kembali ke masa ketika setiap momen adalah ajang saling berbagi dan merayakan kebersamaan?
Menurut Gabeng, jawabannya ada pada kita semua. “Kita bisa mulai dengan menghidupkan kembali tradisi-tradisi yang melibatkan semua lapisan masyarakat. Liga olahraga antar kampung, festival musik yang melibatkan talenta muda Balaraja, atau kompetisi akademik yang bisa melahirkan generasi unggul semuanya bisa kita bangkitkan kembali,” ujar Gabeng dengan semangat yang tak padam.
Pemerintah desa, kecamatan, kelurahan, LPM, dan Karang Taruna memiliki peran kunci dalam mewujudkan kebangkitan ini. “Saatnya kita mengembalikan Balaraja ke masa kejayaannya, saat kebersamaan bukan hanya kenangan, tapi juga bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Jangan biarkan kenangan itu tetap menjadi cerita, mari kita hidupkan kembali dengan energi baru,” ajaknya, penuh harapan.
Suaranya bukan hanya didengar oleh masyarakat umum, tetapi juga oleh Ustad Ahmad Rustam, seorang aktivis kerohanian di Balaraja. Ia menambahkan pesan yang lebih mendalam mengenai pentingnya kebersamaan dari perspektif spiritual.
“Kebersamaan itu bukan hanya soal berkumpul, tapi juga soal mendekatkan diri kepada sesama dan Tuhan. Ketika kita bersatu, kita bukan hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga memperkuat ikatan spiritual kita sebagai umat,” ujar Ustad Ahmad Rustam, memberi warna religius dalam diskusi ini.
Namun, tak bisa dipungkiri bahwa teknologi, dengan semua kelebihannya, juga menjadi salah satu penghalang. Dugaannya, peran gadget dalam kehidupan kita telah mengurangi kualitas interaksi sosial. Tetapi, teknologi juga bisa menjadi alat yang memperkuat kebersamaan jika kita bijak mengelolanya.
“Dugaan bahwa gadget mengurangi interaksi langsung memang ada, namun kita bisa mengubahnya menjadi peluang. Mengapa tidak kita tentukan zona bebas gadget saat berkumpul? Atau buat kegiatan yang lebih interaktif agar semua bisa terlibat langsung?” usul Gabeng dengan penuh optimisme.
Dari sisi praktis, peran pengusaha lokal di Balaraja sangat penting untuk mendukung kebangkitan ini. Jika mereka terlibat dalam kegiatan sosial seperti sponsor acara atau bahkan berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan festival, maka kegiatan ini akan terasa lebih hidup dan penuh energi.
“Jika pengusaha lokal ikut mendukung, acara-acara ini bisa menjadi lebih besar dan melibatkan lebih banyak orang, yang tentu saja akan mempererat kebersamaan di Balaraja,” tambah Gabeng.
Selain itu, anak muda Balaraja harus menjadi pendorong utama perubahan ini. Mereka adalah agen-agen perubahan yang dapat membawa semangat baru dalam setiap kegiatan sosial. “Generasi muda harus lebih banyak dilibatkan, mereka harus merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk menjaga semangat kebersamaan yang telah lama ada,” ujar Gabeng dengan tegas.
Namun, untuk mewujudkan semua itu, tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak saja. Pemerintah desa dan kecamatan harus berkolaborasi dengan masyarakat untuk menciptakan forum-forum diskusi atau acara yang melibatkan banyak pihak.
“Kita bisa mulai dengan acara kecil yang bisa mempertemukan masyarakat, kemudian dari sana, semangat kebersamaan ini akan tumbuh dengan sendirinya,” jelas Gabeng, menunjukkan langkah pertama yang dapat diambil.
Dan tentunya, media sosial bisa menjadi platform yang sangat berguna dalam memperkenalkan dan menggerakkan kembali kebersamaan ini. Menggunakan media sosial dengan bijak, kita bisa menginformasikan berbagai acara, mengundang partisipasi masyarakat, dan mempererat silaturahmi. “Kita tidak perlu menolak teknologi. Justru, kita bisa memanfaatkannya untuk memperkuat kebersamaan di Balaraja,” katanya.
Pada akhirnya, Balaraja memiliki potensi luar biasa bukan hanya dari segi ekonomi, tetapi juga dari segi kebersamaan dan kreativitas. Semua elemen masyarakat, dari tokoh-tokoh hebat hingga generasi muda, memiliki peran penting dalam membangkitkan semangat gotong royong yang pernah ada.
“Saatnya Balaraja bergerak. Saatnya kita menghidupkan kembali semangat kebersamaan yang dulu pernah ada, dan menjadikannya sebagai pondasi untuk masa depan yang lebih baik,” kata Gabeng dengan penuh tekad.
Mari kita mulai dari sekarang. Jangan biarkan kenangan menjadi sebuah cerita lama. Kembalikan Balaraja ke masa-masa ketika setiap momen kebersamaan adalah perayaan hidup. Ayo, kita bergerak!
(Dedi)